Waktu
saya berusia 12 tahun, saya berniat untuk bunuh diri. Saya memang pergi
ke sekolah, tapi hidup saya tidak ada di sekolah. Saya melihat diri saya
tidak layak lagi untuk hidup… dan saya begitu menyesali keadaan diri
saya… Tapi yang saya harapkan saat itu seseorang datang dan berkata
semuanya akan baik-baik saja. Masalahnya jika orang mengatakan hal itu,
maka saya akan katakan, “Bagaimana bisa, kamu tidak tahu pahitnya hidup
dan masa depan saya. Yang membuat saya senang adalah memiliki orang tua
dan saudara yang sangat mendukung saya. Saya selalu terbuka dengan
mereka tentang hidup dan perjuangan saya.
khususnya
pada saat saya berusia 7 sampai 9 tahun. Saya tumbuh di keluarga
Kristen, semua orang berkata bahwa tuhan itu Kasih. Setiap orang berkata
bahwa Tuhan baik selamanya dan untuk selamanya Tuhan baik. Tapi saya
tidak bisa mengatakan itu. Saya tidak dapat melihat kasih Tuhan dalam
hidup saya karena rasa sakit dan penderitaan yang saya alami. Saya tidak
mengerti kenapa ini bisa terjadi atas diri saya. Rupanya Tuhan tahu
kalau saya akan dilahirkan seperti ini dan saya pikir kalau Dia
mengasihi saya, seperti kepada yang lainnya, kenapa Dia membiarkan saya
dilahirkan seperti ini… dan juga, kalau Dia dapat melakukan segala
sesuatu, mengasihi dan memperdulikan saya, lalu mengapa Dia tidak
memberikan saya tangan dan kaki secara mujizat?
Untuk
beberapa tahun saya marah pada Tuhan, tidak bicara kepadaNya dan tidak
mau melakukan apapun untukNya, sebab dalam setiap keadaan membuat saya
bertanya dimanakah Tuhan? Apakah Dia itu benar-benar ada? Apakah Dia
mendengar doa kita? Pertanyaan-pertanyaan ini yang selalu terlintas
dalam benak saya.
Waktu
saya berusia 8 tahun, saya mengalami depresi yang sangat berat. Dipenuhi
oleh kemarahan saya terhadap Tuhan, membuat saya ingin menyerah dari
hidup ini. Saya selalu bergantung pada orang lain, bahkan untuk
mengambil segelas airpun saya tidak mampu. Jadi daripada saya membebani
orang lain, lebih baik saya akhiri saja hidup saya. Saya tidak menemukan
arti dan tujuan hidup saya…
Seperti
tertulis dalam kitab suci, bahwa Tuhan memiliki harapan dan masa depan
untuk kita, tapi saya sama sekali tidak meemukan harapan dan masa depan
bagi hidup saya. Jadi seringkali saya tidak mengerti bagaimana saya bisa
menikah, berkeluarga, hidup sepeti orang normal dan yang lainnya… dan
sekalipun menikah, bagaimana saya bisa memegang tangan istri saya?
Hal-hal inilah yang terjadi atas diri saya. Namun perubaan datng saat
umur saya 13 tahun.
Tadinya saya berpikir bahwa saya adalah
satu-satunya orang di dunia ini yang memiliki ketidakmampuan seperti
ini. Lalu ibu saya menunjukkan sebuah koran yang memuat artikel tentang
seseorang yang mampu mengatasi ketidakmampuannya sendiri. Dan itu
membuka pikiran saya, bahwa mungkin saya bukan satu-satunya orang yang
menderita. Saya mulai melihat ini sebagai berkat, dan saya melihat hidup
saya bukan setengah kosong melainkan setengah penuh. Saya tidak tahu
berapa penuh, tapi saya melihat kekurangan ini sebagai karunia.
Saya
di sini bukan untuk memotivasi karena itu bersifat sementara, saya di
sini untuk memberikan inspirasi, karena inspirasi itu bersifat kekal.
Dan saya ingin orang mengingat saya waktu mereka melalui masa yang
sukar. Saya ingin orang melihat hidup saya sebagai contoh dari kasih
karunia Tuhan, supaya semua orang tahu bahwa saya memiliki harapan hanya
di dalam Yesus Kristus.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar